s

Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label FF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FF. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Maret 2011

"Aku Ingin Dia Nyata di Sampingku"

  • Cast: Aku, Yoseob
  • Genre: mini story..
  • Author: Rssma Muppy
  • Rule: #imagine you as 'Aku' ! :D

Berawal dari mengenal Yoseob seminggu yg lalu. Sebuah pertemuan yg tidak disengaja di taman kecil samping sekolah. Taman dengan pemandangan indah. Namun saat itu aku memang menangis. Tetes demi tetes air mata ini mengalir hingga tak menyadari kedatangan seorang cowok duduk di sampingku. Yah, dia Yang Yoseob.. Satu-satunya orang yg dapat menenangkanku saat itu. Tak terjelaskan bagaimana ia. Sosok yg dingin, bahasanya lembut, dan cukup tampan bagiku.
Sebatas mengenal dan berteman dengannya untuk hari selanjutnya. Tak peduli dari kelas mana ia berasal, yg kutahu kami satu sekolah..

Mencarinya, kebiasaan yg kulakukan di pagi hari. Tak butuh waktu lama untuk mengakrabkan diri. Aku nyaman meluapkan semua keluhku padanya. Hari kedua, ketiga, dan hari-hari berikutnya. Aku mengabaikan orang-orang dekatku hanya untuk bertemu lagi dengannya. Walau terbesit satu kecurigaan, ketika aku hanya menemukannya di satu tempat, di taman kecil itu.. tapi kupikir mungkin itu hanya efek dr beban pikiranku saja. Aku telah peduli padanya. Semua rasa hadir pada tawanya yg menyejukkan. Lelucon bahkan tingkah imutnya, aku memuji semuanya. Aku bahkan mulai mencintainya. Pada sahabatku, aku menceritakan semua tentang Yoseob. Benci saja, ia tak ingin meresponku, bagai menvonis keadaanku yg tidak normal d matanya. Aku bingung aku salah apa..

Hingga suatu insiden terjadi .

Pagi itu, aku terperanjat ketika Yoseob tiba-tiba berdiri d hadapanku dgn senyum khasnya. "waeyo?" sapaku. "ambil ini.." dgn memberiku sebuah gelang dari tangannya.
Hanya mmperhatikan gelang itu, aku dpandang aneh banyak orang. Aku acuh, tapii "Dia kemana?" aku mengumbar pandanganku berkali-kali, tak kutemukan lagi sosoknya.
Ketika kembali ke kelas, mataku tak lepas dari gelang itu. Permata spiral dgn ukiran 'YS' ditengahnya. Bukan benda biasa menurutku. Aku menyimpannya dgn baik di kotak pensilku. Dan tetap sama, aku benci orang-orang dsekitarku. Semua memandangku dengan raut wajah bingung. Ini bener2 menggangguku~ aku tak mengerti..

Setelah menghilang tadi pagi, aku berkutat lagi untuk mencari Yoseob sepulang sekolah. Jejeran kelas yg kulewati kumasuki satu persatu, tapi tidak ada. Hanya kudapati hal yg membuatku terkejut, membuat nafasku tak beraturan. Karna tak seorangpun mengenal sosok Yoseob..

Feeling kemudian membawaku ke taman kecil itu, dan benar saja, aku menemukannya disana. Sembari tersenyum tipis, ada keraguan berkecamuk tentang apa yg sebenarnya belum kupahami...

"kemana saja?" tanyaku padanya.
(dia tersenyum) "aku disini".
"kamu tahu, aku khawatir padamu. aku...aku bingung...." kataku dengan terbata-bata.
"hh..matamu lelah. Pulang lah!"
"tidak, aku mencarimu.."
"tapi aku ada urusan" elaknya lagi.
"aku ingin bicara, pliss"
"aku harus pergi, kumohon pulang lah.."
ia berbalik badan lantas melangkah, dan segera saja kutarik tangan itu sebelum memberi jarak antara kami. Dengan memeluknya erat, aku merasakan kehangatan yg tak mau kutinggalkan..
dan apa....tiba2 tangan ini hampa..
membuka mata, dan aku tidak melihatnya. Mimpi atau bukan, aku benar2 tak melihatnya lagi....
"Seobie-ya!!!" rontakku mulai kacau
"YA!!! eodie-ga???"
terselimuti keanehan dan kemarahan, aku melangkah tak pasti mencarinya. Mengitari taman tak berbentuk ini. Tapi.....apa ini?? kemana taman hijau yg biasa kulihat..?
Di hadapanku, sebuah pekarangan yg berantakan..
Membuat nafasku semakin tak beraturan. Aku membeku.. kurasakan seluruh bagian tubuhku membatu tak dapat lagi kegerakkan. Bukan karna aku takut, semua hanya sulit kecerna.....
Sejurus aku berlari mencari lingkunganku, hingga tak sadar arus langkahku sudah menuju ke lorong kelas. Aku segera mencari gelang itu, ingin memastikan. Tapi setelah meraih kotak pensil.....
"kosong..." gumamku, gelang itu sudah tidak ada....

aku roboh dan jatuh tersungkur d lantai. Seketika aku hanya mampu menutup mata, dan menangis...


Begitulah..Yoseob bukan sepertiku. Dan aku mulai mengerti bagaimana pandangan orang-orang terhadapku. Ketika aku berbicara, tertawa, berbagi ksedihan, aku hanya seorang diri. Yoseob tak nyata. Aku menyesal mengetahui keadaan ini disaat aku benar2 membutuhkannya. Aku hanya ingin dia nyata disampingku :')

END

FF -Pergi Saja Kalau Kau Mau-

Main casts:

· Jun Su (Xiah)

· Jaejin (or Jin Ki)

· Han Ah (lay ur name for this cast^^)

Genre: Sad End/S/PG13

Chapter: 2/3

Author: Rssma Muppy


>>Chapy 2

Setelah Jaejin usai makan malam, ia duduk di samping Junsu. Ia menatap Jun sejenak “hmm aku belum tau namamu..” tanyanya tiba-tiba. “aku Junsu” jawaban singkat, Jaejin lalu menyuruh Junsu menunjukkan kamar untuknya. Jun pun menunjuk ke sebuah kamar disamping kamarnya. “kau tidur di kamar itu tapi bereskan dulu!” ucap Junsu.

Kontrakan Junsu tidak begitu luas dan memang hanya ada dua kamar. Mau tidak mau Jaejin harus mengeluarkan sedikit tenaganya untuk membereskan kamar bersarang laba-laba ini agar ia bisa beristirahat. Ia pun mulai bergerak. Sementara itu Junsu masih di depan tv menikmati drama yang sedang ditontonnya.

Jae cukup kewalahan mengatur kamarnya itu. Tiba-tiba ia terdiam sejenak. Ada sesuatu yang harus ia pikirkan. Ia mengambil posisi duduk dan mengepalkan kedua tangannya. Setelah cukup lama berfikir, ia menatap ke luar kamar dan mulai melangkahkan kakinya dengan gerakan perlahan. Tepat di samping pintu kamar ia berdiri. Ia mangamati Junsu dari belakang. Raut wajahnya menggambarkan ada sesuatu yang tak lazim. Senyumnya sinis. Entah apa maksudnya. Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan kembali menyelesaikan pekerjaannya itu.

[end of Author’s POV]

[Junsu’s POV]

Hari ini aku bangun lebih awal dan mulai bekerja di dapur. Tanganku sudah terbiasa memerani pisau dan bahan-bahan dapur. Masakanku akhirnya jadi juga setelah 30an menit berkecimbung di dapur. Aku pun menatanya di atas meja makan. “kenapa anak itu belum bangun juga? malas sekali dia” gumamku. Pagi ini aku membuat makanan favoritku, spesial untuk menghibur batinku yang sedikit kacau. Semalam banyak yang mengusik pikiranku. Aku bingung mengapa bayang-bayang masa laluku datang menghantui. Aku ingin melupakan mereka, masa suramku. “iya. aku harus melupakan kejadian itu. Mereka hanya masa lalu..” aku bergeming sendirian.

~flashback~

“hhuuuh~ ampun appaa…”

Tubuh kecilku mengerang kesakitan. Air mataku tak henti-hentinya mengalir. Kurasakan benda itu terus meremas kulitku sekaligus meremuk batinku. Aku seperti tak ingin bernapas lagi. Sebuah tali keras mengayung di tubuhku berkali-kali.

“dasar anak sial!! apalagi yang ingin kau perbuat untuk mempermalukan keluarga ini, Hah!!” bentak appa sangat keras sambil sesekali mencambuk punggungku. Aku ingin memberontak tapi aku tak berdaya lagi. Setelah puas memukuliku, appa melepaskanku. Omma hanya diam di samping appa. Tak ada niat untuk menolongku. Mereka pun berlalu meninggalkan aku sendiri di gudang ini. Aku hanya mampu berbaring lemah di lantai. Aku anak umur 10 tahun yang terlalu keras menjalani hidup. Air mataku sudah tak cukup melukiskan derita yang kualami.

Aku selalu takut. Setiap hari dimarahi, dipukuli, diperlakukan hina. Dunia benar-benar tak adil untukku. Terkadang aku berfikir, hidupku adalah sebuah kutukan. Aku hanya ingin cinta dari setiap orang. Tapi semua itu lenyap setelah apa yang orang-orang sekitarku lakukan padaku. Mungkin aku memang anak sial yang dibiarkan hidup.

~end of flashback~

“YA! mana sarapan untukku?” aku sontak kaget mendapati Jae sudah berada di belakangku. Tanpa aku sadari mungkin dia sudah memperhatikanku sedari tadi. “eh itu, aku letakkan di atas meja” tanganku menunjuk meja makan. “memangnya kau bangun jam berapa?” tanya Jae padaku. Mungkin anak ini tidak terbiasa bangun pagi sehingga heran melihatku yang sudah bangun dari tadi. “huh! kau sendiri jam begini kenapa baru bangun!” ledekku “semalaman susah tidur, nyamuk mondar-mandir di wajah imutku ini..” ia terkikik. “eh kau kuliah kan hari ini? Sudah semester berapa?” tanyanya lagi. “semester tiga” “oo..berarti kau seniorku ya!” aku melihat Jae mengangguk2 tidak jelas.

Hari ini aku berangkat ke kampus bersama Jaejin. Berhubung karena motorku bermasalah, aku berniat naik bus. Tapi ada-ada saja kelakuan Jae. Sebelum mendapati bus untuk ditumpangi, ia menyetop sebuah taxi. Ogah naik bus katanya. Aku sebenarnya begitu malas dengan anak ini. Tapi dengan terpaksa aku menuruti kemauan orang yang sudah menjadi teman tempat tinggalku itu.

[end of Junsu’s POV]

***

[Author’s POV]

“Junsu-ya, kita berpisah disini ya” “ya sudah sana” jawab Junsu malas. Jaejin melangkah ke taman. Ia seperti mencari seseorang. Setelah beberapa kali mengumbar pandangannya akhirnya ia menuju ke tempat seseorang yang sedang duduk. Seorang gadis yang asyik dengan notebooknya. “Hei noona!” sapa Jaejin menggoda seraya langsung mengambil posisi duduk tepat di sebelah gadis itu. Gadis itu terlihat sedikit lebih tua dari Jae. “ah kau. Ada perlu apa?” gadis itu merasa sedikit terganggu dengan kedatangan Jae. “ani, noona lagi sibuk ya? butuh bantuan?” kata Jae lagi. “bisa bantu apa? ini juga sudah selesai. Eh memangnya ada angin apa datang lebih awal?” tanya gadis itu meledek. “yaa..karena mau ketemu noona” “serius? Tapi maaf aku sepertinya ada urusan” tanpa basa-basi gadis itu beranjak membereskan barangnya. “eh noona..jangan pergi dulu!” “kalo ada perlu telfon saja, ok?” jawab gadis itu santai kemudian berlalu meniggalkan Jaejin “YA!”. Dari kejauhan gadis itu berbalik melemparkan senyumnya. Jae ikut tersenyum dan terus memperhatikan belakang gadis itu hingga ia menghilang di sudut ruas jalan. Ada aura kagum yang terpancar di wajah Jae, sepertinya ia menaruh hati pada gadis itu.

***

“mana sih tu anak, katanya pulang kuliah suruh kesini” ucap Junsu. Ia sudah menunggu cukup lama di pusat Jajanan yang tidak jauh dari kampus. “OMO!! Ada cowok cakep. lagi nunggu temen ya?” suara yang datang dari belakang, rupanya pemilik jajanan. Wanita itu tiba-tiba memandang Junsu sedikit agresif. Junsu risih melihatnya “mau jajan apa?“ tanya wanita itu lembut “a..ani” jawab Jun singkat tanpa ingin memandang ke arah wanita tersebut.

“Mian kelamaan!” Junsu lega akhirnya Jaeu muncul juga. “kenapa tidak langsung pulang saja? di rumah juga bisa makan.” “tapi gue suka jajan disini, di rumah palingan cuma ada ramen” Jae langsung menyerbu jajanan wanita itu. “mau?” tawarnya pada Junsu tapi Junsu menggelengkan kepala tandanya tidak mau sama sekali. Jae menikmati makannya sambil senyum-senyum. Junsu yang memperhatikan langsung bertanya, “kenapa? ada yang lucu?“ “tadi aku sempat bertemu seseorang, dia sangat manis” “apa? kau jatuh cinta?” tanya Junsu heran “sudahlah, lupakan saja. eh hyung suka menggambar ya?” “mwo? siapa yang menyuruhmu panggil hyung?” “kau kan seniorku dan sekarang kita tinggal bersama apa itu salah? jawab saja pertanyaanku..” Jaejin sedikit kesal. “bukan menggambar tapi melukis, sebenarnya bukan suka lagi tapi sudah bisa, untuk apa kau menanyakan itu?” Junsu balik bertanya. “aku mau kau mengajariku!” “punya bakat apa?” ucap Junsu meremehkan. “eh kau tidak tahu ya, aku termasuk anak yang cerdas jadi sekali diajar pasti langsung bisa. Dari kecil aku sudah puas pada prestasiku” “huh..sombong sekali, aku tidak yakin” ”terserah kau saja. Jadi bagaimana, mau mengajariku tidak?” Jae sedikit emosi. “iya iya tapi…” “tapi apa?” “kenalkan padaku gadis yang kau maksud, bagaimana?” “aah TIDAK!” bantah Jaejin seketika. “hahah…” Junsu tertawa riang melihat Jae yang sepertinya takut sekali gadisnya itu diambil.

Setelah puas menikmati makanan-makanan di depannya, Jaejin menyuruh Junsu yang membayar semuanya. Lagi-lagi merepotkan Junsu dan Junsu hanya bisa manyun melihat ulah Jae ini. “Ya! kau mau kemana lagi?” teriak Junsu sembari mengikuti langkah Jae yang entah kemana arahnya. “kau ikut saja” perintah Jae. Junsu sebenarnya tidak mau mengikutinya tapi mengingat bahwa Jae baru ke kota ini, ia takut anak itu kesasar.

Jauh berjalan membuat napas Junsu sudah tidak teratur, apalagi Jae mempercepat langkahnya. Akhirnya mereka berhenti di sebuah dermaga. Spontan Junsu takjub melihat dermaga ini menyajikan pemandangan yang luar biasa. Rasanya sudah lama sekali ia barada di kota ini, tapi ia tak pernah tahu ada tempat seperti ini. Mungkin karena terlalu disibukkan oleh sekolahnya. Tak diduga Jaejin bisa membawanya ke mari. Dermaga itu membisukan mereka. Jernih airnya menampakkan alam bebas yang membentang hijau disekitarnya. Angin lembut menambah kesejukan sore itu. ”Yaa..jangan hanya melamun, bagus tidak tempatnya?” Jae mulai bicara. “hmm..tempat ini nyaman sekali. Kenapa aku tidak tahu dari dulu kalau ada dermaga yang begitu cantik di sini” Junsu agak menyesal. “hh, kau bisa aja” Jae tersenyum ”terus apa maksudmu membawaku ke mari?” tanya Junsu yg masih heran. “aku tidak ada maksud apa-apa, sebelumnya aku pernah kesini diajak teman dan melihatmu terlalu sibuk dengan kuliah, aku rasa kau tidak ada waktu untuk menikmati pemandangan diluar” “sok tahu! kau kasihan padaku?” “aah~ kau salah mengartikan lagi ucapanku” kata Jae. “Ne, tidak usah dijelaskan, aku sudah mengerti. Gomawo sudah membawaku kesini” Junsu kembali menikmati panorama alam di hadapannya itu. Sepertinya ini adalah awal kedekatan mereka. Dan hari-hari berikutnya mereka jalani lebih akrab. Kehadiran Jaejin membawa keceriaan baru di kehidupan Junsu…

-to be continued-

Yayyaii~ segini cukup?? mohon untuk ngikutin alur ceritanya dulu..

Komen yo, gmawoo ^^

Minggu, 27 Februari 2011

FF -Pergi Saja Kalau Kau Mau-

Main casts:

· Jun Su (Xiah)

· Jin Ki (Onew)

· Han Ah (lay ur name for this cast^^)

Genre: Sad End/S/PG13

Chapter: 1/3

Author: Rssma Muppy

>>Chapy 1

[Author’s POV]

Junsu masih tertidur pulas di ranjangnya. Senyum tiba-tiba tersungging dari bibirnya. Dilihatnya sosok gadis yang sangat ia rindukan. Belum sempat ia hanyut dalam mimpinya itu, alarm HPnya berbunyi.

“hoaah~ ” uapan lembut menyapu udara di sekitarnya. Ia berusaha beranjak dari tempat tidur dan segera menuju kamar mandi di kontrakannya itu.

Kehidupan Junsu sekarang jauh dari apa yang dipikirkannya dulu. Sejak umur 10 tahun, ia memilih hidup sendiri. Menurutnya, ia lebih baik meninggalkan kedua orang tua dan adik angkatnya daripada harus menjalani masa suram yang tak pernah diinginkannya. Kini ia tercatat sebagai salah satu mahasiswa di Yonsei University jurusan Art and Design semester ketiga. Seorang penggemar lukisan. Memang impiannya dari dulu adalah menembus universitas ternama itu. Tapi tak mudah mencapai itu. Hanya dengan keuletannya ia akhirnya berhasil meraih beasiswa dari universitas tsb.

Seperti aktivitas hariannya sebagai mahasiswa, pagi ini ia telah berbenah ke kampus. Motor yang biasa menemaninya sudah siap di pekarangan. Ia pun mulai menunggangi motor kesayangannya itu dan melaju di balik udara pagi...

***

Yang membawakan materi adalah Sir Yong Yun. Namun kelas kali ini membuat Junsu bosan. Dia hanya menatap kosong sang dosen. Tiba-tiba terbesit dipikirannya soal mimpi tadi pagi. Junsu teringat kembali kejadian 3 tahun lalu saat dirinya masih duduk di bangku SMA.

~flashback~

Junsu masih menatap lekat sosok dihadapannya. Seorang cewek yang menyita seluruh perhatiannya. Cinta pertamanya, Han Ah yang saat ini masih sibuk meraih satu persatu buku-buku di rak perpus. Seperti mencari sesuatu yang belum ditemukannya dari tadi.

Junsu yang saat itu duduk di kelas dua, mengamati tingkah Han Ah yang kini sekelas dengannya. Bukan hanya Junsu yang memandang sama sosok Han Ah, puluhan pasang mata juga mengekspresikan muka yang sama, kagum. Gadis yang selalu menghargai orang lain.

Sosok Han Ah yang telah Junsu kagumi sejak setahun lalu, memang hanya bisa ia tatap dari kejauhan. Sebab ritual menyatakan cinta belum mampu ia lakukan. Selain karena merasa tak pantas dan tak punya kelebihan apa-apa, Junsu sadar kalau dirinya tak seperti cowok lain yang juga naksir dengan Han Ah. Ada Yunho sang ketua osis, Yoochun sang kapten basket, begitu pun dengan Changmin anak ketua yayasan. Jika memikirkan hal ini, nyali Junsu langsung ciut sehingga perasaannya mungkin akan tetap mengaung di hatinya. Ia memang tipe orang yang terlalu bisu meluapkan perasaan.

“Junsu-ya, sedang apa?” tiba-tiba suara Han Ah menelusup ke telinganya. “hah..emm..” Junsu yang menyadari kedatangan Han Ah langsung kikuk dengan wajah bingung. “ah aniyo~” jawabnya linglung. Han Ah hanya menatapnya kemudian tersenyum simpul. Sungguh manis sekali..

~end of flashback~

Junsu yang seolah ingin membalas senyuman itu langsung sadar dari lamunannya.

“Hei, kamu! ada pertanyaan?” tegur Sir Yong tiba-tiba. “Saya sir?” “iya kamu. kenapa hanya melamun?” “maaf sir, emm..sa..saya tidak ada pertanyaan.” Dosen itu lalu menggelengkan kepala.

Mata kuliah hari ini akhirnya selesai dan itu yang diinginkan Junsu dari tadi. “huh..sangat membosankan!” pekiknya. Saat menuju parkiran, dilihatnya beberapa mahasiswa tengah mengutak-atik motornya. Entah apa salah Junsu.

”Ya!! kalian apakan motorku?” dua orang itu berbalik “ooh kau pemilik motor buntut ini? Kau tidak lihat apa motormu menghalangi Lexus milikku?” ucapnya kasar “maaf saya tidak lihat, tapi tidak dengan cara seperti ini” kata Jun sedikit emosi. “Jadi kau mau apa HAH?!!” tantang salah satu dari mereka. “heh, kau pikir saya takut?!” tantang Junsu balik. Akhirnya terjadi perkelahian diantara mereka. Tapi yang ada, Junsu kurang tangkas melawan orang-orang songong itu. Ia pun tersungkur jatuh. Tubuhnya berubah lemah dan masih terus dipukuli. Ia menopang tangannya, berusaha melindungi wajah bersihnya itu. Seketika juga seseorang membantunya. Orang itu dengan lihai melayangkan tendangannya. Hanya butuh beberapa serangan, orang itu berhasil membuat mahasiswa2 tadi KaO dan segera pergi.

Junsu berdiri sambil memegangi lukanya, berjalan meghampiri orang yang menolongnya itu. “kau hebat juga” puji Junsu. Orang itu diam. Ia memandang ke arah tangan Junsu. Cukup lama. Junsu hanya memasang raut wajah bingung. Orang itu kemudian menatap Junsu dan tersenyum sinis “kau terlalu berani melawan mereka” katanya sombong lalu pergi. “Apa katamu??” Junsu tersinggung tapi secepat mungkin ia berteriak “YA! gomawo~”

Junsu segera meraih motornya dan menembus kerumunan orang-orang yang menonton perkelahian tadi. “lihat apa!!” ketusnya.

***

Waktu kini menunjukkan pukul 8 malam. Junsu berbaring santai di depan tv dan tiba-tiba..

Tokk tok tok!!

“siapa yang bertamu malam2 begini..” batinnya. Ia berjalan menuju pintu. Sebelum membukakan pintu untuk tamu gelap ini, Jun mengintip dr balik jendela. Dilihatnya pria berjaket kulit hitam. Sosok yang menyeramkan bagi Junsu. Tapi Junsu memberanikan diri membuka pintu. “ehhem..” Ia berdehem kecil agar tamu ini mau berbalik badan. Perlahan orang itu membalikkan badannya, kemudian tersenyum manis. Junsu kaget. “HAH!! Kau? Mau apa kesini?” tanya Junsu begitu heran. Orang itu tanpa permisi langsung masuk. Ia adalah orang yang menolong Junsu tadi siang. Tingkahnya seperti tak tahu tatakrama. “Ya!! Kau belum jawab pertanyaanku. Kau pikir kau siapa?” gertaknya.

“hhm.. kenalkan, saya Lee Jaejin. Cukup panggil Jaejin” tapi Junsu belum mau membalas uluran tangan itu. Ia masih heran melihat tingkah aneh orang ini. “ada urusan apa kau kesini dan tahu darimana rumahku?” tanya Junsu kembali. “itu karena aku membuntutimu. Aku ingin tinggal di tempatmu ini, boleh kan?”. “tidak! tidak!.. apa-apaan kau! memangnya tidak punya rumah apa?!!” tolak Junsu cepat. “ayolah..aku memang tidak punya tempat tinggal. Aku baru datang ke kota ini dan tidak punya siapa-siapa disini. Aku mahasiswa baru di Yonsei. Kemarin2 aku hanya menginap di tempat teman dan malam ini dia tidak membolehkanku lagi tinggal disana. Sulit mencari tempat tinggal malam2 begini. Jadii..aku harap kau mau menerimaku tinggal disini untuk sementara..” jelasnya panjang lebar dengan wajah sedikit memelas. Berfikir, Junsu tidak tega juga membiarkan orang ini tidur di jalan apalagi tadi siang ia sudah menjadi pahlawan bagi Junsu. Ia lalu menatap Jaejin seksama. Jaejin memasang senyumnya lagi “baiklah, kali ini aku yang menjadi pahlawan untukmu. Tapi berapa lama kau disini?” “tenang brader, hanya beberapa waktu saja, ok! aku lapar, ada makanan tidak?” dengan semena-mena Jaejin beranjak mencari dapur. Spontan amarah Junsu naik kembali “ya..YA!! kau tidak boleh seperti ini di rumahku!”

Yah, itulah Jaejin, ugal-ugalan dan selalu bertindak semaunya tapi di kedalaman jiwanya banyak kelembutan yang belum tampak…

-to be continued-

Segini dulu . komentar dinanti ^^

Gomawo~